Ferrari Luce kembali menjadi sorotan, bukan hanya karena statusnya sebagai mobil listrik pertama Ferrari, tetapi juga karena strategi kerahasiaan yang dilaporkan sangat ketat di balik peluncurannya. Model ini menjadi salah satu langkah paling sensitif bagi Ferrari karena membawa nama besar Maranello masuk ke era elektrifikasi penuh.
Sejumlah laporan media otomotif menyebut pihak yang mendapat akses awal ke Ferrari Luce harus mengikuti perjanjian kerahasiaan atau non-disclosure agreement (NDA) dengan ancaman denda besar jika terjadi kebocoran informasi. Angkanya dilaporkan mencapai sekitar US$700.000 atau setara kurang lebih Rp11 miliar, meski Ferrari belum mengonfirmasi secara resmi besaran klausul tersebut.
Informasi soal ketatnya pengamanan ini ramai dibahas setelah diungkap oleh kreator otomotif Tim Burton, yang dikenal sebagai Shmee150. Dalam laporan media, peserta yang hadir disebut tidak leluasa membawa atau memakai perangkat pribadi. Ponsel, laptop, kamera, hingga alat perekam dikabarkan berada di bawah kontrol ketat selama sesi pratinjau berlangsung.
Ferrari juga disebut mengatur materi visual secara terpusat. Artinya, dokumentasi foto dan video tidak sepenuhnya diserahkan kepada tamu atau media yang hadir, melainkan dikendalikan melalui tim internal dan baru dibagikan mendekati waktu embargo berakhir. Strategi seperti ini membuat narasi peluncuran Luce tetap berada dalam kendali Ferrari sampai momen publikasi resmi.
Secara produk, Luce memang bukan mobil biasa bagi Ferrari. Berdasarkan informasi resmi Ferrari, nama Luce diumumkan sebagai bagian dari pengenalan interior dan interface mobil listrik penuh tersebut. Sementara itu, Reuters melaporkan Luce sebagai EV empat pintu dan lima penumpang dengan harga sekitar 550.000 euro, pengiriman mulai kuartal keempat 2026, serta performa lebih dari 1.000 hp, kecepatan puncak di atas 310 km/jam, dan jarak tempuh lebih dari 500 km.
Dalam konteks brand mewah, langkah menjaga kerahasiaan seperti ini bisa dibaca sebagai bagian dari strategi perlindungan citra. Ferrari tidak hanya menjual kendaraan, tetapi juga eksklusivitas, momen, dan rasa penasaran. Ketika sebuah model sepenting Luce bocor terlalu dini, risiko yang muncul bukan sekadar kehilangan unsur kejutan, tetapi juga perubahan persepsi publik sebelum brand sempat menjelaskan konteks produknya.
Meski begitu, kabar denda Rp11 miliar ini tetap perlu diposisikan sebagai laporan media, bukan pernyataan resmi Ferrari. Yang jelas, Ferrari Luce sudah menjadi pembicaraan besar bahkan sebelum detailnya dipahami sepenuhnya. Dari sisi komunikasi brand, misteri tersebut justru memperkuat posisi Luce sebagai salah satu peluncuran EV paling diperhatikan di segmen ultra-luxury.

