Impor mobil utuh atau Completely Built Up (CBU) ke Indonesia mengalami penurunan tajam pada Mei 2026. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), jumlah mobil impor yang masuk ke pasar domestik pada Mei hanya mencapai 4.548 unit.
Angka tersebut turun 46,4 persen dibanding April 2026 yang masih berada di level 8.493 unit. Penurunan ini sekaligus menjadikan Mei sebagai bulan dengan volume impor mobil CBU terendah kedua sepanjang 2026, hanya sedikit lebih tinggi dibanding Januari yang mencatatkan 5.003 unit.
Secara akumulatif, total impor mobil CBU selama Januari hingga Mei 2026 tercatat sebanyak 29.928 unit. Jika dibandingkan dengan volume penjualan kendaraan nasional yang mencapai ratusan ribu unit dalam periode yang sama, kontribusi mobil impor utuh memang relatif kecil dibanding kendaraan yang diproduksi atau dirakit di dalam negeri.
Belum ada penjelasan resmi dari Gaikindo mengenai penyebab turunnya impor CBU pada Mei. Namun, terdapat beberapa faktor yang berpotensi memengaruhi kondisi tersebut. Salah satunya adalah meningkatnya kapasitas produksi dan perakitan lokal sejumlah merek otomotif yang sebelumnya masih mengandalkan impor utuh.
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak produsen yang beralih dari skema CBU ke CKD (Completely Knocked Down) atau perakitan lokal untuk meningkatkan daya saing harga sekaligus memenuhi berbagai ketentuan industri dalam negeri. Tren ini juga terlihat dari sejumlah merek baru yang mulai membangun fasilitas produksi atau bekerja sama dengan pabrik perakitan di Indonesia.
Di sisi lain, pasar otomotif nasional juga menunjukkan dinamika yang cukup beragam sepanjang awal 2026. Data Gaikindo mencatat penjualan wholesales domestik pada April 2026 mencapai 80.776 unit atau meningkat 55 persen secara tahunan. Kondisi tersebut menunjukkan permintaan pasar tetap berjalan meski komposisi pasokan kendaraan bisa mengalami perubahan antara produk impor dan produksi lokal.
Faktor lain yang juga sering dikaitkan dengan pergeseran impor kendaraan adalah kebijakan peningkatan kandungan lokal, efisiensi rantai pasok, hingga strategi pabrikan untuk menekan biaya logistik. Dengan produksi lokal yang semakin berkembang, kebutuhan mendatangkan mobil dalam bentuk utuh dari luar negeri dapat berkurang.
Data impor kendaraan pada bulan-bulan berikutnya akan menjadi indikator penting untuk melihat apakah penurunan Mei 2026 merupakan fenomena sementara atau bagian dari tren pergeseran industri menuju produksi lokal yang lebih besar.

