Implementasi mandatori biodiesel 50 persen atau B50 di Indonesia memicu berbagai tanggapan dan perhatian khusus dari para pengguna kendaraan, terutama mengenai kesiapan teknis kendaraan mereka. Menanggapi hal tersebut, sejumlah pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) memberikan pandangan komprehensif bahwa penggunaan bahan bakar baru ini pada dasarnya aman untuk mesin diesel modern. Kendati demikian, pemilik kendaraan tetap harus memperhatikan beberapa langkah persiapan dan penyesuaian teknis tertentu agar performa kendaraan tetap terjaga optimal dalam jangka panjang.
Pakar konversi energi ITB, Tri Yuswidjajanto Zaenuri, atau yang akrab disapa Pak Yus, dalam keterangannya pada 27 Juni 2026 menjelaskan bahwa ada potensi munculnya sinyal awal saat kendaraan mulai mengonsumsi B50. Sinyal awal tersebut dapat berupa sedikit penurunan performa mesin serta konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang terasa agak lebih boros dari biasanya. Menurutnya, gejala perubahan performa ini akan terasa lebih nyata pada kendaraan yang sebelumnya terbiasa menggunakan bahan bakar diesel kasta tinggi nonsubsidi seperti Pertamina Dex.
Secara teknis, perubahan karakteristik mesin ini dipicu oleh sifat fisik dari B50 itu sendiri yang memiliki tingkat viskositas atau kekentalan serta nilai densitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan solar fosil murni. Karakter fisik yang lebih kental tersebut menyebabkan proses pengabutan pada sistem injeksi kendaraan menjadi sedikit lebih kasar di dalam ruang bakar. Akibatnya, terdapat sebagian kecil material bahan bakar yang tidak mampu terbakar secara sempurna, yang kemudian memengaruhi efisiensi dan keluaran tenaga kendaraan.
Selain masalah proses pembakaran di dalam silinder mesin, aspek material komponen kendaraan juga menjadi hal krusial yang perlu diantisipasi oleh para pemilik mobil harian. Pakar otomotif ITB, Yannes Martinus Pasaribu, pada 30 Juni 2026 mengingatkan bahwa bahan bakar B50 memiliki sifat pelarut atau efek deterjen (solvent effect) yang jauh lebih kuat. Sifat kimiawi yang agresif ini berpotensi menyebabkan komponen elastis di dalam sistem bahan bakar, seperti selang karet, seal, dan gasket, mengalami proses degradasi atau getas dengan waktu yang lebih cepat dibandingkan kondisi normal.
📖 Baca Juga: Harga BBM Turun Hari Ini: Hitung Seberapa Banyak Kamu Bisa Berhemat Saat Isi Penuh Dexlite dan Pertamina Dex

Meskipun terdapat tantangan teknis pada sifat kimia dan fisiknya, implementasi bahan bakar baru ini di lapangan dinilai tidak akan menimbulkan kerusakan fatal selama perawatan dilakukan dengan benar. Pemilik bengkel Anyar Motor Bintaro, Bramantia Tamtama atau yang biasa dipanggil Obot, pada 30 Juni 2026 menegaskan bahwa untuk beberapa model kendaraan populer seperti Toyota Innova diesel, Mitsubishi Pajero Sport, hingga Toyota Fortuner, penggunaan B50 tergolong sangat aman. Namun, dirinya memberikan catatan penting bahwa interval waktu atau jarak servis berkala kendaraan-kendaraan tersebut wajib dipercepat demi mengantisipasi penyumbatan.
Sektor pelumasan mesin juga tidak boleh luput dari perhatian para pemilik armada transportasi diesel saat melakukan penyesuaian ini. Senior Analyst Pertamina Lubricants, Mulianto, menekankan pentingnya ketepatan dalam memilih serta memantau kondisi oli mesin kendaraan harian. Bagi kendaraan yang masih mengandalkan jenis oli mineral biasa, batas maksimal masa pakai disarankan berada di angka 5.000 kilometer saja. Sementara itu, untuk kendaraan yang telah beralih menggunakan pelumas berbahan dasar oli sintetik murni, masa pakai oli tersebut diklaim bisa bertahan sedikit lebih panjang sebelum harus diganti baru.
Sebagai panduan praktis, para pakar menyarankan beberapa langkah perawatan yang bisa diaplikasikan langsung oleh masyarakat pengguna kendaraan diesel. Pertama, pemilik mobil harus lebih sering melakukan penggantian filter solar untuk menghindari penyumbatan dari endapan kotoran yang terlarut oleh bahan bakar baru. Kedua, pemeriksaan rutin terhadap kondisi fisik selang karet dan seal pengaman harus ditingkatkan, terutama bagi unit kendaraan yang diproduksi sebelum tahun 2010. Ketiga, pemilihan oli mesin harus selalu disesuaikan dengan spesifikasi pabrikan yang tertera pada buku manual kendaraan masing-masing.
📖 Baca Juga: Pertamax Turbo Hingga Pertamina Dex Resmi Turun: Simak Rincian Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi Per 1 Juli 2026
Para pakar juga menyarankan para pemilik mobil untuk tidak mencampur penggunaan bahan bakar B50 ini dengan Pertamina Dex di dalam tangki, karena tindakan tersebut dinilai tidak memberikan banyak manfaat teknis maupun efisiensi yang signifikan. Pemilik juga disarankan untuk memantau catatan konsumsi BBM pada rentang satu hingga dua minggu pertama penggunaan sebagai acuan atau baseline baru kendaraan mereka. Secara umum, mesin diesel modern dengan teknologi common rail keluaran tahun 2016 ke atas dinyatakan sangat aman dan hanya memerlukan penyesuaian yang minimal. Sebaliknya, bagi varian kendaraan diesel tua yang masih mengadopsi sistem injeksi mekanis pra-2010, penggunaan bahan bakar ini tetap bisa dilakukan asalkan pemeriksaan komponen karet dilakukan secara berkala.
Hingga saat ini, pemantauan berkala mengenai dampak operasional jangka panjang dari bahan bakar mandatori baru ini masih terus dilakukan oleh pihak akademisi, bengkel, dan produsen kendaraan. Penyesuaian kebiasaan merawat kendaraan menjadi kunci penting agar transisi energi hijau nasional ini dapat berjalan tanpa mengorbankan durabilitas kendaraan harian masyarakat.

