Perjalanan sejarah baru resmi diukir oleh PT Eurokars Motor Indonesia (EMI) selaku Agen Pemegang Merek (APM) Mazda di Indonesia melalui pengoperasian fasilitas perakitan perdananya. Pengoperasian pabrik Mazda Indonesia yang diberi nama Mazda Indonesia Plant (MIP) ini berlokasi strategis di kawasan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kehadiran fasilitas perakitan lokal ini secara resmi menandai fase penting transformasi bisnis bagi pabrikan otomotif asal Hiroshima, Jepang tersebut di tanah air. Setelah bertahun-tahun mengandalkan skema impor kendaraan dalam kondisi utuh atau Completely Built-Up (CBU), pengoperasian fasilitas ini menjadi bukti komitmen jangka panjang dalam mendekatkan lini produksi dengan basis konsumen di pasar domestik.
Fasilitas perakitan eksklusif ini dibangun di atas lahan seluas 6,2 hektare dengan nilai investasi awal yang fantastis mencapai Rp400 miliar. Seluruh suntikan dana investasi tersebut didanai secara mandiri sebesar 100 persen oleh jaringan bisnis Eurokars Group. Menariknya, berbeda dengan kebanyakan pabrikan otomotif di Indonesia yang kerap memanfaatkan fasilitas produksi bersama (shared assembly line) bersama merek lain, produsen ini memilih langkah yang lebih mandiri. Mereka membangun sebuah dedicated assembly facility yang secara khusus dirancang dan didedikasikan hanya untuk memproduksi serta merakit jajaran lini kendaraan bermotor berlogo Mazda.
Pada tahap awal operasionalnya, fasilitas manufaktur baru ini dirancang untuk memiliki kapasitas produksi mencapai 5.700 unit kendaraan per tahun. Ritme proses perakitan di dalam area pabrik diatur dengan standar Job Per Hour (JPH) sebesar 3 unit mobil yang selesai dirakit setiap jamnya. Manajemen juga telah menyiagakan skenario ekspansi di mana kapasitas produksi tersebut dapat ditingkatkan hingga melampaui angka 10.000 unit per tahun melalui penerapan skema dua sif kerja harian, seiring dengan dinamika pertumbuhan permintaan pasar di masa mendatang.
📖 Baca Juga: Gantikan Gerakan Fleksibel Manusia, Mitsubishi Siapkan Robot Humanoid untuk Merakit Mobil pada 2027

Model kendaraan pertama yang secara resmi keluar dari lini perakitan lokal ini adalah Mazda CX-30. Keputusan untuk menjadikan produk SUV kompak ini sebagai model pionir rakitan dalam negeri didasari oleh pertimbangan product lifecycle atau siklus hidup produk yang masih panjang. Selain itu, langkah ini juga diselaraskan dengan tingginya tren dominasi segmen SUV di pasar otomotif Indonesia maupun secara global. Sebelum diproduksi secara lokal di Citeureup, lini kendaraan Mazda CX-30 sebelumnya dipasarkan untuk konsumen tanah air.
Dalam menjalankan operasional harian, manajemen PT EMI secara tegas menyatakan bahwa fokus utama dari pendirian fasilitas baru ini adalah pada standar kualitas, bukan sekadar mengejar pemenuhan kuota volume produksi massal semata. Demi mewujudkan target Zero Defect atau nihil cacat pada setiap unit yang keluar dari pabrik, seluruh tahapan perakitan dikawal ketat oleh sistem digital Manufacturing Execution System (MES). Sistem canggih ini bekerja merekam seluruh data riwayat perakitan dari setiap komponen secara presisi dan terintegrasi dari awal hingga akhir proses perakitan.
Guna menjamin mutu produk tingkat tinggi, fasilitas produksi di Citeureup ini telah dilengkapi dengan instrumen pengujian berteknologi canggih dari Jerman, yaitu perangkat presisi DÜRR. Peralatan modern ini digunakan secara khusus untuk menangani proses fluid filling, pengujian wheel alignment, pengujian headlight, hingga simulasi brake & speed tester. Tak hanya itu, area pabrik juga memiliki fasilitas Shower Booth Test yang berfungsi melakukan pengujian kekedapan ruang kabin dari potensi kebocoran air melalui simulasi curah hujan ekstrem. Sebelum unit dikirim ke diler, kendaraan wajib melewati pengujian dinamis di Dedicated Test Track seluas area pabrik yang mensimulasikan berbagai macam kontur permukaan jalan seperti bumpy road, belgian road, hingga jalan bergelombang.
📖 Baca Juga: Dukung Transisi Energi, Jasa Marga Sediakan Biosolar B50 di Rest Area Tol Jakarta-Cikampek
Dari sisi ketersediaan sumber daya manusia, seluruh operator serta tim inspektur mutu di pabrik Mazda Indonesia ini memanfaatkan tenaga kerja lokal terampil. Seluruh personil telah mendapatkan program pelatihan intensif serta mengantongi sertifikasi resmi langsung dari fasilitas Mother Plant Mazda di Thailand, dengan pendampingan teknis secara ketat dari tim ahli manufaktur Mazda Jepang. Kehadiran fasilitas perakitan lokal ini tidak hanya diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, melainkan menjadi fondasi jangka panjang dalam mendongkrak pencapaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) secara bertahap serta membuka peluang ekspor ke kawasan Asia Tenggara di masa depan. Hingga informasi resmi ini diturunkan, kesiapan distribusi unit rakitan lokal ke jaringan diler serta perkembangan realisasi tingkat kandungan dalam negeri masih terus dipantau secara berkala.

