Ketua Dewan Direksi Toyota Motor Corporation, Akio Toyoda, kembali menjadi sorotan setelah mengungkapkan kekhawatirannya terhadap masa depan industri otomotif yang sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV).
Komentar tersebut muncul dalam wawancara eksklusif bersama jurnalis otomotif Mat Watson dari Carwow yang dipublikasikan pada 9 Juni 2026. Dalam wawancara itu, Toyoda mengatakan bahwa peralihan seluruh industri ke BEV menjadi salah satu kekhawatiran terbesarnya.
“Everybody is shifting to BEVs, this is the biggest fear for me,” kata Toyoda dalam wawancara tersebut. Pernyataan ini kemudian memicu kembali diskusi mengenai arah elektrifikasi global dan posisi Toyota yang selama ini memilih pendekatan lebih hati-hati terhadap mobil listrik murni.
Menurut Toyoda, kekhawatiran tersebut bukan muncul karena Toyota menolak kendaraan listrik. Ia menilai peralihan yang terlalu cepat menuju mobil listrik murni berpotensi mengganggu jutaan lapangan pekerjaan yang selama puluhan tahun bergantung pada industri mesin pembakaran internal dan rantai pasok komponennya.
Toyoda juga meyakini bahwa pengurangan emisi karbon tidak harus dilakukan melalui satu teknologi saja. Dalam pandangan Toyota, hybrid, plug-in hybrid, hidrogen, kendaraan listrik berbasis baterai, hingga mesin pembakaran internal berbahan bakar rendah emisi masih dapat berjalan berdampingan, tergantung kondisi energi, infrastruktur, dan kebutuhan konsumen di masing-masing pasar.
Bagi pasar Indonesia, pandangan ini menarik karena menunjukkan bahwa bahkan di tengah pertumbuhan mobil listrik, teknologi hybrid masih dianggap memiliki peran penting sebagai solusi transisi yang lebih realistis. Kondisi infrastruktur pengisian daya, harga kendaraan, pola penggunaan harian, dan kesiapan ekosistem menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.
AF Media melihat pernyataan Toyoda bukan sebagai penolakan terhadap kendaraan listrik, melainkan sebagai pengingat bahwa masa depan industri otomotif kemungkinan tidak akan ditentukan oleh satu teknologi saja. Transisi menuju kendaraan rendah emisi tetap penting, tetapi jalurnya bisa berbeda-beda antara satu negara dan negara lain.
Meski demikian, Toyota sendiri tetap terus memperluas lini kendaraan elektrifikasinya. Karena itu, pernyataan Toyoda lebih tepat dibaca sebagai dorongan agar industri tidak terburu-buru menghapus opsi teknologi lain sebelum ekosistem kendaraan listrik benar-benar siap secara menyeluruh.

