Efisiensi biaya operasional harian kini menjadi faktor penentu utama bagi konsumen dalam memilih kendaraan perkotaan. Dalam informasi yang dihimpun mengenai pasar kendaraan listrik (electric vehicle/EV) kompak tanah air, Changan Lumin yang dipasarkan dengan harga Rp222 juta On The Road (OTR) Jakarta menawarkan potensi penghematan pengeluaran harian yang cukup signifikan. Dengan berbekal daya kapasitas baterai sebesar 28 kWh, mobil listrik mungil ini diklaim mampu menjelajah jarak tempuh hingga 301 kilometer berdasarkan metode pengujian New European Driving Cycle (NEDC).
Jika dihitung secara matematis menggunakan skema pengisian daya di rumah (home charging) dengan tarif listrik nonsubsidi berkisar Rp1.699 per kWh, maka biaya pengisian baterai dari posisi kosong hingga penuh berkisar Rp47.572. Dengan asumsi daya tersebut habis digunakan untuk menempuh jarak klaim maksimal sejauh 301 kilometer, maka rata-rata biaya yang dikeluarkan pengguna Changan Lumin hanya menyentuh angka sekitar Rp158 hingga Rp159 per kilometer perjalanan.
Angka operasional EV tersebut menjadi sangat kontras apabila dikomparasikan langsung dengan pengeluaran unit mobil kota (city car) konvensional berbasis bahan bakar bensin. Mengambil contoh penggunaan bahan bakar jenis Pertamax dengan asumsi harga Rp16.250 per liter serta rata-rata konsumsi BBM mobil harian di jalur perkotaan yang padat sebesar 12 kilometer per liter, biaya perjalanan yang harus dikeluarkan pengguna mobil bensin mencapai sekitar Rp1.354 per kilometer.
Melalui perbandingan angka riil di atas, selisih biaya pemakaian harian antara Changan Lumin dan kendaraan bensin sekelasnya memperlihatkan margin penghematan biaya energi yang menembus hingga 88% per kilometer. Bagi para komuter perkotaan di Indonesia yang terbiasa menghadapi rute macet setiap hari, efisiensi ini berpotensi memangkas anggaran transportasi bulanan secara masif dalam jangka panjang penggunaan.
Hingga artikel ini ditulis, skema tarif listrik pengisian daya kendaraan listrik harian dari PLN masih menggunakan acuan regulasi tarif penyesuaian (tariff adjustment) berjalan, sementara fluktuasi harga bahan bakar minyak komersial standar nasional diproyeksikan akan terus bergerak mengikuti dinamika harga minyak mentah dunia.

