Dominasi merek otomotif China di Eropa diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Analisis terbaru dari konsultan manajemen Horváth menyebutkan bahwa pangsa pasar merek China di sejumlah negara Eropa sudah menembus dua digit, sementara posisi mereka di segmen mobil listrik baterai atau battery electric vehicle (BEV) juga terus menguat.
Menurut analisis tersebut, merek-merek asal China kini telah menguasai lebih dari 10 persen pasar mobil di beberapa negara seperti Norwegia, Inggris, dan Italia. Di segmen BEV, pangsa pasar merek China di Eropa diperkirakan sudah mencapai sekitar 14 persen. Dalam empat hingga lima tahun ke depan, angka tersebut diproyeksikan meningkat hingga kisaran 15–25 persen sebelum berpotensi melampaui 30 persen dalam satu dekade mendatang.
Peningkatan tersebut tidak lepas dari strategi ekspansi agresif yang dilakukan pabrikan China. Selain menawarkan teknologi elektrifikasi yang berkembang cepat, banyak produsen juga hadir dengan portofolio produk yang luas, mulai dari kendaraan massal hingga segmen premium. Salah satu contoh terlihat dalam gelaran Auto China 2026, ketika BYD menampilkan kekuatan ekosistem multi-brand melalui lini Dynasty, Denza, Yangwang, dan Fangchengbao.
Di Eropa, kehadiran merek China tidak lagi hanya mengandalkan mobil listrik murni. Sejumlah produsen mulai menawarkan model hybrid dan plug-in hybrid untuk menyesuaikan kebutuhan pasar. Strategi tersebut dinilai membantu mereka tetap tumbuh meski Uni Eropa menerapkan tarif tambahan terhadap kendaraan listrik yang diproduksi di China.
Bagi pabrikan Eropa dan Jepang, tren ini menjadi tantangan baru. Selama puluhan tahun, pasar Eropa dikenal sebagai kandang utama bagi merek-merek lokal seperti Volkswagen Group, Stellantis, Renault, BMW, hingga Mercedes-Benz. Namun masuknya pemain China dengan harga kompetitif, teknologi terkini, dan siklus pengembangan produk yang cepat mulai mengubah peta persaingan.
Kondisi tersebut juga relevan bagi Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, pasar otomotif nasional semakin ramai dengan kehadiran merek China seperti BYD, Chery, Wuling, Jetour, Neta, hingga GAC Aion. Sebagian besar pemain tersebut tidak hanya membawa kendaraan listrik, tetapi juga mulai memperluas pilihan produk ke segmen hybrid dan mesin konvensional.
Sejumlah analis industri menilai perkembangan di Eropa dapat menjadi gambaran arah persaingan global dalam beberapa tahun mendatang. Hingga saat ini, ekspansi merek China di berbagai kawasan masih terus berlangsung seiring bertambahnya jaringan distribusi, fasilitas produksi lokal, dan investasi pada teknologi kendaraan generasi baru.

